Buku-buku yang ia bawa sebagian besar merupakan karya tulisannya sendiri, berupa cerita berbahasa Jawa. Perjalanan Bambang menerbitkan karyanya tidak mudah. Naskah yang sempat ia tawarkan ke penerbit mayor ditolak karena keterbatasan biaya cetak. Ia kemudian memilih jalur penerbitan indie dengan modal pribadi, meski hanya mampu mencetak 50 eksemplar.
“Saya penulis baru, belum dikenal. Maka saya buat etalase di sepeda agar buku ini tetap dibaca orang,” ujar Bambang.
Menurutnya, kekuatan karyanya terletak pada penggunaan bahasa Jawa baku yang bisa dipahami lintas daerah, serta penerapan unggah-ungguh bahasa dalam setiap dialog. Ia menyebut langkah ini sebagai ikhtiar menjaga kemurnian bahasa Jawa dari kekeliruan penulisan dan pergeseran makna. “Tujuan saya sederhana, melestarikan bahasa Jawa agar tidak hilang digerus zaman,” kata Bambang. Buku-bukunya juga pernah Ia unggah di media sosial untuk menjangkau pembaca lebih luas sebelum diterbitkan dalam bentuk cetak.
Kehadiran perpustakaan keliling ini menarik perhatian akademisi, salah satunya Rian Ikhwan Khairi, Guru Bahasa Jawa SMK Muhammadiyah 3 Klaten. Ia bahkan tengah mengerjakan tesis di Universitas Negeri Yogyakarta dengan novel Bambang sebagai objek kajian. “Karya Pak Bambang relevan untuk generasi muda. Selain melestarikan bahasa Jawa, juga memberi pesan kehidupan yang kuat,” ucap Rian. Ia mendorong agar karya tersebut bisa dipromosikan lebih luas melalui seminar, perpustakaan, hingga galeri budaya.
Bambang berharap langkah kecilnya bisa menumbuhkan minat baca di tengah gempuran gawai. Ia menekankan pentingnya literasi bagi generasi muda menuju masa depan bangsa. “Membaca itu jendela dunia. Anak muda jangan sampai jauh dari buku, karena literasi adalah bekal menuju generasi emas 2045,” kata Bambang. Dengan sepeda tuanya, Bambang Saparyono menunjukkan, semangat literasi dapat tumbuh dari kesederhanaan dan ketulusan. (wulan/aan/atang)
Sumber : rri.co.id
