Akar Historis: Dari Sraddha Menjadi Sadranan
Kata Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Sraddha yang berarti keyakinan . Secara historis, tradisi ini berakar dari upacara penghormatan leluhur yang dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit. Budayawan Universitas Gadjah Mada, Rudy Wiratama, menjelaskan bahwa dalam kitab Negara Kertagama karya Empu Prapanca, diceritakan tentang upacara sraddha yang dilakukan secara besar-besaran oleh Raja Hayam Wuruk untuk memuliakan leluhurnya, Sri Rajapatni, pada peringatan 12 tahun setelah kematian .
Upacara sraddha ini kemudian mengalami transformasi seiring masuknya Islam ke Pulau Jawa. Para Wali Songo berperan penting dalam proses akulturasi ini. Mereka tidak serta-merta menghapus tradisi yang sudah mengakar, melainkan menyelaraskannya dengan ajaran Islam . Kata sraddha kemudian bergeser penyebutannya menjadi sraddhan, lalu sadran, dan akhirnya nyadran atau sadranan . Prosesi yang semula berorientasi pada pemujaan roh diubah menjadi rangkaian doa yang ditujukan kepada Allah SWT untuk keselamatan leluhur yang telah meninggal dunia.
Makna dan Nomenklatur dalam Berbagai Wilayah
Dalam literatur budaya Jawa, Nyadran juga dikenal dengan nama Ruwahan karena dilaksanakan pada bulan Ruwah . Istilah Ruwah sendiri berasal dari kata Arwah yang merujuk pada kegiatan mengirim doa untuk arwah leluhur .
Menariknya, tradisi ini memiliki nama yang berbeda di berbagai daerah. Masyarakat Temanggung dan Boyolali menyebutnya sadranan, sementara di Jawa Timur lebih dikenal dengan istilah manganan atau sedekah bumi . Perbedaan nomenklatur ini memperkaya khazanah literasi budaya Jawa, menunjukkan bagaimana satu tradisi diadaptasi dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.
Prosesi dan Simbolisme dalam Literatur
Berdasarkan dokumentasi dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan berbagai sumber akademis, prosesi Nyadran umumnya terdiri dari beberapa tahapan yang sarat makna :
1. Besik (Pembersihan Makam)
Tahap awal adalah besik, yaitu kegiatan membersihkan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Kegiatan ini dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh keluarga atau warga masyarakat . Dalam literasi sosial, besik mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur.
2. Ujub dan Doa Bersama
Setelah makam bersih, dilakukan pembacaan doa yang dipimpin oleh pemangku adat atau pemuka agama. Dalam sesi ini, disampaikan ujub atau maksud dari rangkaian upacara, dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk arwah leluhur . Akulturasi Islam terlihat jelas di tahap ini, di mana doa-doa dipanjatkan dengan menggunakan bahasa Arab dan Jawa.
3. Kembul Bujono (Makan Bersama)
Puncak dari tradisi Nyadran adalah kembul bujono atau makan bersama. Setiap keluarga membawa makanan dari rumah, biasanya berupa makanan tradisional seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, perkedel, serta tempe dan tahu bacem . Makanan tersebut didoakan terlebih dahulu, kemudian ditukar antarwarga sebelum akhirnya disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi .
Nilai-Nilai Filosofis dan Sosial
Literasi tentang Nyadran tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya:
- Gotong Royong: Tradisi ini memperkuat kohesi sosial melalui kerja sama membersihkan makam dan menyiapkan acara .
- Penguatan Silaturahmi: Nyadran menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar yang mungkin jarang bertemu, merekatkan kembali tali persaudaraan agar tidak kepaten obor (terputusnya komunikasi keluarga) .
- Pengingat Kematian: Ritual ziarah makam menyadarkan manusia tentang hakikat kehidupan bahwa semua akan kembali kepada Sang Pencipta .
- Rasa Syukur: Nyadran merupakan wujud ungkapan syukur kepada Allah SWT atas berkah dan kesehatan yang diberikan .
Nyadran dalam Kajian Akademik Modern
Sebagai objek literasi, Nyadran telah banyak dikaji dalam berbagai penelitian akademis. Di Universitas Indonesia, misalnya, terdapat penelitian yang menelusuri kemiripan unsur-unsur antara tradisi sadranan dengan upacara sraddha dalam Nagarakertagama . Sementara itu, jurnal Thaqafiyyat UIN Sunan Kalijaga mengkaji Nyadran sebagai realitas sakral menggunakan perspektif Mircea Eliade, yang melihat tradisi ini sebagai manifestasi hierophany atau perwujudan hal sakral dalam budaya .
Kajian-kajian ini membuktikan bahwa Nyadran tidak sekadar tradisi lisan, tetapi telah terdokumentasi dengan baik dalam literatur akademis, menjadikannya sebagai sumber pengetahuan yang terus dipelajari dari generasi ke generasi.
Kesimpulan
Nyadran adalah bukti nyata akulturasi budaya Jawa dan Islam yang berlangsung damai dan produktif. Dari akar katanya dalam bahasa Sanskerta hingga praktiknya di era modern, tradisi ini menunjukkan kemampuan budaya Jawa dalam mengadaptasi nilai-nilai baru tanpa kehilangan esensi lamanya. Keberlangsungan Nyadran kini bergantung pada peran generasi muda dalam memahami, mendokumentasikan, dan meneruskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya . Dengan demikian, tradisi ini akan terus hidup, tidak hanya sebagai praktik ritual, tetapi juga sebagai khazanah literasi yang memperkaya peradaban Nusantara.
