Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan penting bagi para pegiat literasi dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk berdialog langsung dengan para pemangku kebijakan, tokoh pendidikan, hingga perwakilan legislatif. Dalam suasana hangat namun penuh gagasan besar, sarasehan ini menghadirkan semangat kolaborasi demi memperkuat masa depan literasi Indonesia.
Bagi anak muda dan komunitas literasi, acara ini bukan sekadar forum diskusi. Sarasehan menjadi simbol bahwa gerakan literasi terus tumbuh dari akar masyarakat dan semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, hingga tokoh sosial keagamaan.
Menyatukan Langkah Penggerak Literasi
Sarasehan Jambore Literasi TBM Jawa Timur 2026 menjadi wadah strategis untuk menyelaraskan langkah antar komunitas literasi daerah. Para pengelola TBM, pegiat baca, relawan pendidikan, hingga komunitas anak muda hadir membawa pengalaman dan gagasan dari daerah masing-masing.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa literasi hari ini tidak lagi hanya tentang membaca buku. Literasi telah berkembang menjadi gerakan sosial yang mencakup pendidikan masyarakat, penguatan budaya lokal, kecakapan digital, hingga pembangunan karakter generasi muda.
Ketua Forum TBM Jawa Timur, Jauharul Habibie, menegaskan bahwa Jambore Literasi 2026 bukan hanya agenda seremonial tahunan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum evaluasi, penguatan jaringan, sekaligus ruang belajar bersama bagi komunitas literasi di seluruh Jawa Timur.
Ia menyampaikan bahwa setiap TBM memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, forum seperti ini penting agar para penggerak literasi dapat saling berbagi strategi pengelolaan, inovasi program, hingga memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Hadirnya Dukungan dari Berbagai Sektor
Sarasehan ini menghadirkan dialog lintas sektor yang memperlihatkan kuatnya dukungan terhadap gerakan literasi masyarakat. Sejumlah tokoh penting hadir dan memberikan komitmen nyata terhadap penguatan literasi di Jawa Timur.
Dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, hadir langsung Dr. Puji Retno Purwanti, M.Hum. selaku Kepala Balai Bahasa Jawa Timur sebagai narasumber pertama. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya penguatan bahasa Indonesia sebagai identitas nasional sekaligus menjaga bahasa daerah sebagai kekayaan budaya.
Ia menjelaskan beberapa regulasi penting yang menjadi dasar pengembangan literasi kebahasaan, di antaranya:
- UUD 1945 Pasal 36 tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
- UUD 1945 Pasal 32 tentang kewajiban negara memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
- UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Menurutnya, TBM memiliki peran strategis dalam membangun budaya berbahasa yang baik di tengah masyarakat. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik harus berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah di ruang publik.
Sementara itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur diwakili oleh Ida Sri Wulandari, S.H., M.H. selaku Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan dan Informasi. Kehadiran dinas perpustakaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah terus membuka ruang kolaborasi bersama komunitas literasi masyarakat.
Turut hadir pula Dewan Pendidikan Jawa Timur melalui Dr. Kulsum, M.Pd. yang juga merupakan penasihat Pengurus Wilayah TBM Jawa Timur. Kehadiran unsur pendidikan ini mempertegas bahwa gerakan literasi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan sumber daya manusia.
Dukungan juga datang dari unsur legislatif melalui perwakilan anggota DPRD Fraksi PKB serta tokoh pesantren dan penggerak literasi perempuan Jawa Timur dari Pondok Pesantren DSI Al-Falah.
Literasi Harus Dekat dengan Anak Muda
Di tengah derasnya arus digital dan media sosial, gerakan literasi menghadapi tantangan baru. Namun justru di situlah peluang besar muncul. Anak muda hari ini memiliki kreativitas, jejaring, dan kemampuan teknologi yang dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun budaya literasi yang lebih relevan dan menarik.
Sarasehan Jambore Literasi TBM Jawa Timur 2026 menjadi bukti bahwa gerakan literasi masih hidup dan terus berkembang. Dari ruang-ruang baca sederhana, komunitas literasi mampu menghadirkan perubahan nyata di masyarakat.
Meski digelar dengan suasana sederhana di PKBM Al Madinah Kediri, acara ini membawa harapan besar. Aspirasi dari berbagai daerah dihimpun untuk memperkuat ekosistem literasi yang inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.
Gerakan literasi bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah. Literasi adalah gerakan bersama. Ketika anak muda, komunitas, pemerintah, dan masyarakat bergerak dalam satu visi, maka masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berbudaya bukan sekadar mimpi.

