Kegiatan ini menjadi ruang besar silaturahmi, kolaborasi, sekaligus penguatan gerakan literasi masyarakat di tengah tantangan zaman digital yang terus berkembang. Tidak sekadar pertemuan komunitas, Jambore TBM Jawa Timur hadir sebagai simbol bahwa gerakan membaca, belajar, dan berbagi pengetahuan masih tumbuh kuat dari akar masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas yang menjadi narasumber utama. Ia didampingi perwakilan Tim Kerja Literasi BBP Jawa Timur, Amin Mulyanto.
Dalam pemaparannya, Retno menegaskan bahwa TBM memiliki peran penting sebagai ruang belajar masyarakat yang inklusif dan dekat dengan kehidupan warga. Menurutnya, TBM bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga pusat tumbuhnya kreativitas, diskusi, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Literasi hari ini bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi bagaimana masyarakat mampu berpikir kritis, kreatif, dan saling menguatkan melalui pengetahuan,” ungkapnya di hadapan peserta jambore.
Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua Forum TBM Jawa Timur, Jauharul Abidin. Dalam sambutannya, Abidin menekankan bahwa gerakan literasi membutuhkan gotong royong semua pihak agar terus hidup dan berkembang.
Menurutnya, TBM selama ini menjadi garda terdepan dalam membangun budaya baca di masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang akses literasinya masih terbatas.
TBM bukan sekadar rak buku. TBM adalah ruang harapan, ruang bertemu gagasan, dan ruang tumbuhnya generasi masa depan,” tegas Abidin disambut antusias para peserta.
Ia juga mengajak seluruh pegiat literasi untuk terus menjaga semangat kolaborasi di tengah tantangan minimnya dukungan dan perubahan perilaku masyarakat akibat arus digitalisasi.
Selain menghadirkan diskusi dan berbagi praktik baik pengelolaan TBM, jambore ini juga mempertemukan para pengelola TBM dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Hadir pula Sekretaris Dewan Pendidikan Jawa Timur, pengurus wilayah dan daerah Forum TBM, hingga relawan literasi lintas komunitas.
Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa sepanjang acara. Banyak peserta mengaku mendapatkan energi baru setelah bertemu sesama pegiat literasi yang selama ini bergerak di daerah masing-masing dengan tantangan yang hampir serupa.
Jambore TBM Jawa Timur 2026 menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak pernah berjalan sendiri. Dari desa hingga kota, dari taman baca sederhana hingga komunitas besar, semua bergerak membawa misi yang sama: menghadirkan pengetahuan untuk semua.
Dari Kediri, semangat itu kini menggema lebih luas bahwa literasi bukan sekadar program, melainkan gerakan sosial yang mampu mengubah masa depan Indonesia.
